Virus N-Ach Perlu Dibiakkan

Rabu, 10 Februari 2010

SIDOARJO - Virus N-Ach perlu ''diinjeksikan'' kepada para pelajar. Virus tersebut dipercaya mampu mendongkrak kepribadian dan moral siswa. Tapi, itu bukan jenis virus yang menjadi parasit bagi manusia, melainkan istilah pembentukan moral siswa agar kecanduan prestasi alias need for achievement.

Misalnya, kebutuhan mendapat nilai bagus dan bermanfaat bagi orang lain. ''Selain itu, siswa punya semangat berkompetisi,'' kata Prof Kacung Marijan dalam seminar yang diadakan IPNU-IPPNU Sidoarjo di aula depag, Jalan Monginsidi 2, kemarin (7/1).

Dosen Fisip Unair itu menjelaskan, virus tersebut bisa ditanamkan kepada siswa melalui cerita kepahlawanan, keberhasilan, serta proses pendidikan yang melahirkan kreativitas dan inovasi. Kisah dan proses itu sangat bermanfaat bagi siswa. Asal, kisah dan proses tersebut bersifat konstruktif. ''Kebalikannya, kisah keputusasaan dan fatalis malah akan mematikan virus,'' ujarnya.

Harapannya, motivasi belajar siswa tumbuh dengan subur. Jadi, siswa tak perlu dipaksa agar mau belajar. Sebab, tanpa prestasi, siswa bukan siapa-siapa. Doktor ilmu politik dan hubungan internasional dari Australian National University 2005 tersebut mengomentari dunia pendidikan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut dia, sangat tepat bila virus itu diselipkan melalui pemahaman ahlussunnah wal jamaah (aswaja) ala NU. Sebab, aswaja NU tak hanya melingkupi hubungan manusia dengan Tuhan. Selain itu, hubungan manusia dengan sesama dan makhluk hidup.

Jika pola tersebut dibiakkan pada lingkup sosial NU, virus itu akan melekat kepada warga nahdliyin. Otomatis, warga NU yang berprestasi akan mendongkrak image NU secara umum.

Gagasannya tersebut beralasan. Marijan menilai, kualitas pendidikan lingkungan NU masih rendah, meski ada juga yang bagus. Contohnya, sekolah Yayasan Khodijah, Surabaya. ''Tapi, (kualitas, red) yang lain masih menengah ke bawah,'' ungkapnya.

Pembicara kedua, Kadiknas Sidoarjo Agoes Boedi Tjahjono menyampaikan pentingnya pendidikan agama. Menurut dia, mata pelajaran pendidikan agama diberlakukan sejak usia dini hingga perguruan tinggi.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa pendidikan formal tak menjamin siswa menjadi bermoral. ''Saya pernah baca, (ada, Red) siswa bolos, mabuk, cabul,'' katanya. Karena itu, Pemkab Sidoarjo perlu menggalakkan pembinaan moral siswa melalui pendidikan agama. Misalnya, adanya perda 13/2008. Salah satu isinya, kata dia, mewajibkan siswa muslim bisa membaca Alquran.

Pembicara ketiga, Cholidil As'adil Alam, mengisahkan perjalanannya mendapatkan beasiswa. Pemeran Azam dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) tersebut memulai perjalanannya sebelum menjadi bintang film. Pria kelahiran Pasuruan, 1989, tersebut pernah kesulitan bertahan hidup.

Dua tahun dia harus menunda keinginan kuliah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Neno Warisman membantunya hingga sekarang duduk di semester dua Universitas Al Azhar, Indonesia.

Pada akhir acara, puluhan siswa berebut untuk berfoto dengan Azam. Mereka menyatakan sangat terpukau dengan peran Azam pada film KCB. Nilai-nilai kesederhanaan dan semangat belajarnya perlu diteladani. (jawapos/08022010)

0 komentar:

Poskan Komentar