Ruko Tutup, Warung Lesehan Buka

Rabu, 10 Februari 2010

SIDOARJO - Jalan Sepanjang, Kecamatan Taman, menggeliat saat malam. Penjual makanan berjajar di teras toko yang baru tutup. Aneka menu ditawarkan. Mulai nasi pecel, rawon, hingga makanan khas Surabaya dan Sidoarjo.

Jarum arloji di pergelangan tangan menunjukkan pukul 21.00. Ruko-ruko di kawasan Jl Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo, mulai tutup. Namun, kehidupan di jalan tersebut tak lantas terlelap dibalut dingin malam. Sebab, itulah saatnya kehidupan yang lain dimulai.

Begitu rolling door ruko-ruko itu ditutup, di teras deretan ruko tersebut akan bermunculan penjual makanan. Sebab, sekitar pukul 21.00 adalah awal mereka mencari sesuap nasi. Kegiatan itu berlangsung hingga menjelang subuh.

Dengan senyum ramah, para penjual itu tidak bosan melempar senyum kepada pengguna jalan yang melintas. Sesekali kata ''mampir'' terucap dari mulut mereka. Kata itu tidak bermaksud negatif, melainkan tawaran untuk duduk sejenak di emperan toko sambil menikmati makanan yang dijualnya.

Tidak jarang, kata itu menjerat orang untuk berhenti dan menikmati makanan. Suasana bersahabat yang ditawarkan, harga yang juga bersahabat, plus lezatnya makanan membuat warung-warung tersebut dikunjungi banyak orang. Kebanyakan malah ketagihan.

Salah seorang di antaranya adalah Sifaul Anam. Warga Kelurahan Pepelegi, Kecamatan Waru, itu menyatakan sering melintas di jalan tersebut. "Kadang mampir makan, tapi itu tidak sering," katanya.

Bila mampir, menu yang dia suka adalah nasi pecel empedu. Minumnya, kopi panas. ''Lumayan, setidaknya bisa mengisi perut sekaligus menghangatkan tubuh," katanya.

Di antara puluhan warung di sepanjang jalan itu, warung milik Diyah, 22, kerap didatangi Anam. Tapi, dia enggan menyebutkan alasannya. ''Semua sama saja. Saya juga pernah ke warung yang lain. Tapi, lebih sering ke warung ini," ujar pria yang dengan nikmat melahap nasi dari piringnya itu.

Warung-warung tersebut umumnya sederhana. Penjualnya hanya seorang. Mereka membawa keranjang dan perlengkapan makan, selanjutnya duduk di depan ruko menghadap ke jalan raya. Para pembelinya duduk di depan ruko dengan alas tikar plastik.

Diyah, salah seorang penjual, mengatakan baru setahun berjualan nasi di jalan itu. Sebelumnya, dia bersama Sundari, ibunya, berjualan di seberang jalan. "Kalau sama ibu, sejak 2000. Setahun terakhir saya mencoba buka sendiri," katanya.

Perempuan berambut panjang itu menyatakan asli daerah Ampel, Surabaya. Dia bersama enam saudaranya lalu pindah ke kawasan Sepanjang, Taman, Sidoarjo. "Mulai saat itulah kami buka usaha jualan nasi," ungkap Diyah.

Susah senang pernah dialaminya. Mulai meraup keuntungan hingga menerima sikap kurang ajar. Diyah memahami, profesi berjualan makanan mulai pukul 21.00 sampai subuh itu kerap mengundang penilaian positif. "Ada yang bersikap kurang ajar. Baik perkataannya maupun kelakuannya," kata perempuan berkulit kuning langsat itu.

Meski begitu, dia tidak pernah merasa takut. Sebab, di sepanjang jalan itu, tidak hanya dia yang berjualan nasi. Orang tua, adiknya, dan beberapa pedagang lain juga membuka usaha di tempat yang sama.

Diyah hanya berharap, apa yang dia lakukan itu bisa diterima secara wajar oleh masyarakat. Dia hanya mencari penghidupan. "Yang jelas, saya ingin sukses dan membuat ibu saya bangga," ungkapnya. (jawapos/08022010)

0 komentar:

Poskan Komentar